Kamis, 13 November 2008

Riwayat Hidup Nabi Ya'qub A.S

1. Nabi Ya’qub a.s Memerangi Raja Saljam
Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim adalah utusan Allah untuk memimpin ummat supaya menyembah kepada Allah disatu Kan-‘an. Menurut riwayat lain mengatakan disebuah desa yang bernama “Nabulis”. Disanalah beliau menjadi petani yakni bercocok tanam dan memelihara binatang ternak. Di negeri itu bertahta seorang raja namanya “Saljam”. Pada suatu hari raja tersebut tur ke daerah Nabi Ya’qub a.s, maka raja terbengong, karena di daerahnya berdiam penduduk yang tak dikenal. Maka raja bertanya dengan sombongnya : Hai kamu ...! Rupanya kalian tak tahu adat, siapakah yang memberi izin, sehingga kalian berani sekali bertempat tinggal di daerahku. Ya’qub a.s menjawab : Saya anak Ishaq bin Ibrahim a.s dan saya tinggal disini atas izin Allah. Sesungguhnya saya adalah utusan Allah untuk mengajakmu masuk agama Allah, dengan iman kepadaNya yang menjadikan alam semesta ini. Jika engkau tidak mengabulkan seruanku untuk hendaklah engkau mengakui akan ke Rasulanku, niscaya engkau akan kuperangi. Mendengar itu rajapun tiba-tiba wajahnya menjadi merah karena marah dengan berkata : Hai orang gila ...! Adakah kamu sudah berpikiran waras ...? Dengan apa kamu memerangi saya ...? Sedangkan kamu tidak mempunyai bala tentara seorangpun. Nabi Ya’qub a.s menjawab : Saya memerangimu dengan Allah dan malaikatNya serta anak-anakku yang banyak ini. Setelah mendengar perkataan Nabi Ya’qub a.s yang lancang itu, rajapun tetap tidak mau diajak masuk agama Allah, bahkan ia semakin menjadi amarahnya. Tiada lama setelah hari itu, terjadilah peperangan antara raja dengan keluarga Nabi Ya’qub a.s Dalam peperangan itu, seorang putra Ya’qub yang bernama Syam-‘un berkata : Wahai Nabiyallah ! Seandainya engkau mengizinkan, pasti saya bertanggung jawab untuk meruntuhkan benteng pertahanan musuh itu, maka serahkanlah semua itu kepada saya. Nabi Ya’qubpun menyerahkan pekerjaan itu kepada Syam-‘un anaknya. Kemudian Syam-‘un berangkat menuju pintu pertahanan musuh dan beliau berdo’a kepada Allah SWT : Wahai Allah ...! Bukakanlah bagi kami pintu ini dengan mudah dan Engkaulah Yaa Allah, sebaik-baik yang memberi kemenangan. Dengan nama Allah selamatkanlah kami. Kemudian dihantamlah benteng itu dengan kakinya, seketika itu juga dinding benteng menjadi roboh berantakan dan banyaklah orang-orang yang mati tertimpa runtuhan itu dari kalangan musuhnya, sehingga menjadi kebingungan dan kacau balau. Nabi Ya’qub a.s bersama putra-putranya masuk ke benteng pertahanan musuh dan diperangilah raja yang sombong itu sampai dapat dikalahkan dan hartanyapun dijadikan harta rampasan perang. Setelah itu Nabi Ya’qub a.s hijrah ke Palestina menemui ibunya yang bernama “Laban”. Bepergiannya ke Palestina dengan berjalan di waktu malm hari dan istirahat bila siang hari. Itulah sebabnya keluarga Nabi Ya’qub a.s dan keturunannya dinamakan “Bani Isra-‘il”. Nabi Ya’qubpun juga kenal dengan sebutan Nabi Isra-‘il, artinya : Yang suka berjalan malam hari.

2. Wasiat Nabi Ya’qub a.s Kepada Anak-anaknya
Nabi Ya’qub a.s beristri dua orang yang bersaudara kandung namanya “Laya dan Rahil”. Semasa itu masih belum ada larangan dari Allah untuk mempoligamikan atau menikahi dua orang wanita bersaudara. Juga dua orang budak perempuan milik Laya dan Rahil dikawin oleh Nabi Ya’qub a.s. Nabi Ya’qub dengan Laya menurunkan empat anak yaitu : Rabil, Yahuda, Syam’un dan Lawi. Sedangkan dengan Rahil menurunkan dua anak yaitu : Yusuf dan Bun’yamin dan waktu melahirkan Bun-yamin Rahil wafat. Beliau Nabi Ya’qub a.s dengan kedua hamba sahayanya masing-masing mempunyai tiga anak, yang satu melahirkan : Yasakha, Zabulun dan Dana. Sedang yang satunya lagi mempunyai anak bernama : Naftali, kal dan Asyar. Dari mereka semua mempunyai keturunan banyak sekali, sehingga disebut “ASBATH” artinya kabilah-kabilah Bani Isra-il. Setelah lanjut usia, Nabi Ya’qub a.s hidup bersama Nabi Yusuf a.s yang menjadi pembesar negeri Mesir dan disana pula Nabi Ya’qub a.s wafat dalam usia 147 tahun. Demikian pula putra-putranya yang lain, sehingga turun-temurun hidup di negeri Mesir. Ketika Nabi Ya’qub a.s telah mendekati ajalnya, semua anak-anaknya dikumpulkan dan berwasiat sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 133 :



Artinya : Adakah engkau tahu Ya’qub hampir menjelang maut, ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku nanti ...?" sahut anak-anaknya: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapa-bapamu, yaitu Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, yaitu kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan kami hanya kepadaNya berserah diri."
Demikianlah wasiat Nabi Ya’qub a.s kepada putra-putranya, yang oleh Allah dijadikan figor atau contoh bagi manusia sesudahnya.

Tidak ada komentar: